Penderitaan yang disebabkan oleh penganiayaan karena agama bukanlah pengalaman yang asing bagi gereja.Sejak abad-abad pertama bahkan pada sepanjang zaman, banyak orang Kristen telah menderita hanya karena mereka adalah orang Kristen.Penganiayaan terhadap orang Kristen berkaitan dengan kesalahpahaman tentang Kekristenan.Banyak orang non-Kristen belum melupakan masa lalu ketika Kekristenan bertumbuh dan tersebar luas di bawah kolonialisme dan imperialisme.Hingga kini, para misionaris Kristen dianggap sebagai perusak kebudayaan-kebudayaan pribumi.Dalam artikel ini saya tidak bermaksud menguji anggapan-anggapan ini, dan menurut saya juga tidak ada gunanya untuk menyangkalnya.
Penganiayaan terhadap orang Kristen saat ini jauh lebih komplikatif dari yang disadari kebanyakan orang. Pemikiran bahwa karena orang Kristen berbagian dalam gerakan-gerakan nasional dan pertumbuhan Kekristenan di kalangan penduduk pribumi dunia ketiga yang fenomenal belakangan ini akan serta-merta menyingkirkan ancaman terhadap Kekristenan, menurut saya, adalah pemikiran yang naif. Sementara gereja seharusnya berjuang keras untuk menghindari kesalahan pada masa lampau dan ikut serta secara positif dan konstruktif dalam membangun bangsa, harus disadari bahwa penderitaan adalah bagian dari eksistensi gereja, dan penderitaan bukanlah pengalaman yang asing dalam kehidupan gereja (1Ptr.4:12).
Saat ini, penganiayaan terhadap orang Kristen telah menarik perhatian luas dan dianggap sebagai malaise global. Kesadaran yang bertumbuh tentang penganiayaan terhadap orang Kristen sebagian besar disebabkan oleh usaha-usaha Paul Marshall,1 yang telah mendokumentasikan problem di banyak negara dan menyajikannya sehingga memperoleh perhatian publik. Jika kita melihat statistik dan kasus-kasus penganiayaan yang terjadi tampaklah bahwa problem ini benar-benar serius.Figur-figur dan studi-studi kasus tidak berarti apa-apa bagi mereka yang hidup dalam suasana tenang dan damai, namun bagi banyak orang Kristen di dunia ketiga penganiayaan adalah realitas sehari-hari.Karena intensitas problem dan lingkupnya yang global, saya beranggapan bahwa penganiayaan terhadap orang Kristen adalah salah satu konteks di mana gereja—bukan hanya gereja yang secara langsung terkena dampak penganiayaan, tetapi seluruh gereja yang universal—seharusnya merefleksikan hidup dan penggilannya. Kita sering mendengar tentang berubahnya konteks misi: globalisasi, postmodernisme, pergeseran geografis Kekristenan ke dunia non-Barat, dan sebagainya. Penganiayaan terhadap orang Kristen adalah salah satu konteks yang tidak boleh diabaikan gereja lebih lama lagi jika gereja ingin tetap setia pada firman Allah dan peka akan karya-Nya di dunia.
Dalam artikel ini saya mencoba memberikan beberapa refleksi tentang pengalaman penderitaan gereja yang diakibatkan oleh penganiayaan. Saya memilih 1 Petrus karena saya yakin situasi penerima surat ini pada saat itu serupa dengan situasi gereja sekarang. Dalam 1 Petrus firman Allah berbicara tentang perjuangan gereja dalam menjalani kehidupan dan kesaksiannya dalam lingkungan yang bermusuhan. Saya percaya pesan 1 Petrus tidak saja dapat menguatkan gereja saat ini dalam menahan penganiayaan, tetapi juga dapat memperdalam pemahaman gereja tentang dirinya sendiri, hidup dan panggilannya.
Penderitaan bukanlah keadaan ideal yang harus dikejar oleh orang Kristen atau sesuatu yang harus diterima secara pasif, tetapi juga bukan bagian yang asing dalam kehidupan rohani. Surat 1 Petrus jelas mengenai hal ini, “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu” (4:12).Kita sedang berurusan dengan realitas yang merupakan bagian dari kehidupan Kristen, serta memahami bagaimana penderitaan dapat mencapai tujuan Allah. Saya tidak mengusulkan penerimaan yang pasif terhadap nasib tragis seseorang karena itu akan membuat kehidupan menjadi tidak bermakna. Berita 1 Petrus cukup sederhana: Gereja dipanggil untuk taat dan setia kepada Allah bahkan di tengah lingkungan yang memusuhinya, supaya melalui ketaatan dan kesetiaannya itu Allah menyempurnakan tujuan-Nya. Dalam pemahaman inilah penderitaan dikaitkan dengan kesaksian gereja.Penderitaan Kristen yang berkaitan dengan kesaksian gereja merupakan tema refleksi dalam artikel ini. Dengan perkataan lain, yang ingin kita refleksikan adalah kehidupan gereja dalam lingkungan yang bermusuhan dilihat dari perspektif kesaksian atau misiologis. Misiologi dalam pengertian luas berkaitan dengan, antara lain, kesaksian gereja melalui perkataan dan perbuatan dalam konteks di mana ia berada.
Ada sejumlah pendekatan hermeneutik untuk tema penderitaan dalam 1 Petrus. Dalam artikel ini saya menyajikan dua di antaranya: liturgikal (cultic) dan etikal (paraenetic). Studi-studi yang mewakili pendekatan-pendekatan tersebut disajikan dalam artikel ini karena dianggap memiliki implikasi misiologis di dalamnya. Setelah memaparkan kedua pendekatan tersebut, dengan cara eksegesis, saya akan menelaah penderitaan dari sudut pandang kesaksian gereja. Ini akan melengkapi dua pendekatan yang didiskusikan sebelumnya dan melampaui gagasan tentang penderitaan dari perspektif liturgi dan etis.
BAPTISAN DAN PENDERITAAN: SEBUAH INTERPRETASI LITURGIKAL
Studi yang dilakukan oleh Cross telah melahirkan banyak perdebatan. Saya hanya akan menyebutkan beberapa studi yang menghubungkan baptisan dengan penderitaan dan yang memiliki implikasi-implikasi misiologis. C. F. D. Moule sependapat bahwa 1 Petrus berhubungan dengan baptisan namun ia tidak yakin bagian ini merupakan sebuah liturgi. Bagi Moule, yang mengikuti pendekatan kritik sastra, genre 1 Petrus adalah epistolaris dengan dua bentuk surat di dalamnya. Surat pertama (2:11-4:11) ditujukan kepada komunitas yang belum berada di bawah penganiayaan, sedangkan surat kedua (4:12-5:11) adalah bagi mereka yang berada dalam “api pemurnian.”4 Ia tidak menerima pandangan Cross bahwa penderitaan hanya sekadar penggabungan liturgikal ke dalam Kristus di dalam baptisan. Di sinilah penulis 1 Petrus berbeda dengan Paulus (bdk.Rm. 6).Kendati demikian, Moule sependapat dengan Cross bahwa ada kongruitas antara tema baptisan dan penderitaan.“Penderitaan dihubungkan dengan baptisan (melalui baptisan Kristus, yakni salib-Nya) dan baptisan merupakan sebuah ringkasan doktrin penderitaan Kristen.
Pemikiran dan kehidupan Kristen menerima ciri baptisan dalam konteks penganiayaan.6 Ini berarti, dalam menanggapi penganiayaan gereja dan anggotanya harus mengingat akan baptisan mereka. Baptisan adalah inisiasi mereka ke dalam penderitaan Kristus dan sebagaimana akan kita lihat nanti, pengalaman penderitaan mereka adalah sebuah partisipasi dalam penderitaan Kristus.Kritik yang lebih serius terhadap tesis Cross dilontarkan oleh T. C. G. Thornton,7 L. Goppelt,8 dan D. Hill.9 Thornton cuma mengangkat pentanyaan-pertanyaan kritik bentuk sehubungan dengan natur liturgikal dan paschal 1 Petrus, sedangkan Goppelt mempertanyakan asumsi-asumsi hipotesa kritik bentuk. Goppelt percaya adanya perkembangan pikiran dalam surat tersebut yang mengikuti dua ide kunci yang berkaitan satu dengan yang lain, yaitu relasi antara orang Kristen dan masyarakat, dan pemuridan sebagai penderitaan. Hill menolak gagasan 1 Petrus sebagai liturgi baptisan, sebuah pandangan yang baginya nyaris memalukan karena hanya satu kali kata “baptisan” disebut dalam surat ini (3:21), dan disebutkan dalam pernyataan yang sebenarnya parentesis.10 Andaikata 1 Petrus secara langsung berbicara tentang penderitaan, menurut Hill, tema baptisan seharusnya dikaitkan dengan tema penderitaan, “in such a way as to give unity and cogency to the author’s message of encouragement.”11 Ia menemukan bahwa hipotesa Cross dan Moule tidak memadai dan juga ide bahwa referensi tentang penderitaan yang mungkin atau perlu, dan tentang sikap Kristen yang tepat tercakup dalam instruksi prabaptisan. Hill menyatakan pandangannya tentang relasi antara baptisan dan penderitaan demikian,
The link between baptism and suffering (such as would befall Christians in a hostile environment) may be accounted for simply and adequately by assuming that, since baptism was the occasion and the sign of voluntary self-commitment to the Christian way, those who offered themselves for the rite were aware, through their knowledge of what Christians endured, that this way on which they were embarking would inevitably involve suffering. In short, a Christian’s suffering and his baptism are linked because, in accepting baptism, he is affirming willingness to share in the known experience of baptized persons who were commonly, if not constantly, treated with suspicion and hostility.12
Sebagai ringkasan bagian ini, jelas bahwa 1 Petrus, seperti kata Hill, tidak berbicara tentang baptisan sebagai partisipasi dalam penderitaan Kristus. Ide tentang baptisan sebagai partisipasi dalam Kristus terutama sekali merupakan ide Paulus, dan Cross mungkin telah dipengaruhi oleh Paulus.Namun, 1 Petrus berbicara tentang penderitaan sebagai partisipasi dalam penderitaan Kristus (4:12, 13). Jadi, baptisan dalam surat Paulus dan penderitaan dalam 1 Petrus keduanya dipandang sebagai partisipasi dalam Kristus, yang membuat saya cenderung sependapat dengan Moule mengenai kongruitas antara tema baptismal dan penderitaan dalam 1 Petrus.
Sependapat dengan Hill, pada sisi lain, saya tidak menganggap 1 Petrus sebagai dokumen baptismal.Kendati demikian, beritanya mungkin dimaksudkan bagi orang-orang Kristen yang telah dibaptis untuk mengingatkan bahwa penderitaan mereka merupakan partisipasi dalam penderitaan Kristus yang ke dalamnya mereka telah diinisiasikan pada saat pembaptisan.Dalam 1 Petrus baptisan cuma diasumsikan dan penderitaan masa sekarang, sedikit banyak, merupakan penggenapan pengalaman baptismal. Jika kita menarik implikasi misiologis dari relasi antara baptisan dan penderitaan, dapatdikatakan bahwa baptisan merupakan kesaksian awal komitmen seorang Kristen kepada Kristus dan kesiapsediaannya, seperti pendapat Hill, untuk berbagi pengalaman dengan orang-orang yang telah menderita karena iman mereka.
KEHIDUPAN KRISTEN DI TENGAH PENDERITAAN: SEBUAH INTERPRETASI ETIKAL
Sekarang saya akan membahas tema penderitaan melalui pendekatan hermeneutikal yang sering disebut paraenetic, dan menarik beberapa implikasi misiologis. Paraenesis mengacu pada sebuah genre sastra yang terdiri dari bermacam-macam instruksi moral praktis yang ditujukan pada perubahan perilaku audiensi.13 Saya lebih tertarik pada dasar atau motivasi desakan dan nasihat etikal dalam 1 Petrus khususnya yang memiliki hubungan dengan penderitaan.E. G. Selwyn14 adalah salah seorang ekseget awal terkenal yang menganggap surat ini sebagai dokumen paraenetic atau etis. Kemudian, W. C. van Unnik15 mengusahakan pendekatan yang sama dan meneliti etika dalam surat ini. Unnik yakin bahwa agathopoien (melakukan yang baik) adalah kata kunci dalam 1 Petrus.Ia meneliti pemahaman Yunani-Romawi, Yahudi dan Kristen tentang kata ini, kemudian menetapkan yang mana dari pemahamannya yang dimaksud dalam 1 Petrus.
Studi menarik dilakukan oleh D. L. Balch yang mencermati aturan rumah tangga dalam 1 Petrus yang mengatur perilaku para istri, suami, anak-anak dan para hamba (2:13-3:7).17 Balch berpendapat bahwa penganiayaan yang diasumsikan dalam surat ini bersumber dari kritisisme dalam masyarakat, bukan karena tuntutan agar orang Kristen menyembah kaisar. Ia melihat bahwa dalam masyarakat Romawi dan Yunani, adat istiadat agama dan sosial tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, kapan pun Yudaisme atau Kekristenan memproselitkan dan mengubah kebiasaan-kebiasaan para petobat baru, mereka dituduh telah mengkorupsi dan memutarbalikkan adat istiadat sosial dan rumah tangga Romawi.Pertobatan religius ini merupakan sumber fitnahan tentang insubordinasi para hamba dan istri Kristen.18 Dalam konteks ini, Balch menjelaskan aturan rumah tangga di 1 Petrus.Ia mengatakan bahwa penulis 1 Petrus mendesak penerima suratnya untuk berperilaku sesuai dengan yang diuraikan dalam aturan tersebut dengan tujuan agar berbesar hati, hal ini bertentangan dengan fitnahan orang Roma. Orang Kristen diperintahkan untuk memberikan “pembelaan kepada siapa pun yang bertanya,” yang artinya orang Kristen dapat memperlihatkan kepada orang-orang di luar, bahkan kepada pemerintah, bahwa konstitusi atau aturan rumah tangga mereka tetap peduli untuk memelihara konstitusi Romawi (2:14). Menurut Balch, “Orang Kristen mengklaim bahwa adat istiadat mereka tidak akan menumbangkan konstitusi Romawi meskipun hamba-hamba Kristen dan para istri menolak untuk menyembah dewa-dewa Romawi.
J. Ramsey Michaels melihat bahwa motivasi “melakukan yang baik” bersifat eskatologis, yakni, “keselamatan bagi orang kafir dan kemuliaan bagi Allah pada akhir zaman.”20 Dalam 1 Petrus 2:12 penekanannya adalah pada panggilan misionaris gereja. Menurut Michaels, meskipun umat Allah difitnah mereka tetap berharap agar para pemfitnah itu dapat “terbuka matanya” dan dengan demikian “memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”21 Tema dari 1 Petrus 3:17 yang menjadi fokus eksegesis Michael adalah penderitaan gereja dan keyakinan bahwa Allah pada akhirnya akan menegakkan orang benar dan menghukum orang jahat. Studi yang dilakukan J. Holdsworth, pada sisi lain, menyelidiki kemungkinan bahwa penderitaan memiliki ciri eskatologis yang biasanya lebih berkaitan dengan tulisan-tulisan apokaliptik.Ia meneliti kata peirasmos (pencobaan), lupeo (berduka cita), dokimazo (memukul), makrothumia (penderitaan panjang) dan purosis (pencobaan yang berapi-api) di dalam kerangka kerja apokaliptik. Yang signifikan dalam penyelidikan Holdsworth adalah ia menghubungkan wahyu dengan theologi misionaris:
The prevailing view is that apocalypses are produced when a clash occurs between the powers of this world and the faithful—to assure them of vindication in a specific political situation. In 1 Peter (and not exclusively there) we see the basic elements of a missionary theology which sees a constant, ongoing and necessary disjunction and struggle between powers antipathetic to the Gospel, and the Gospel itself. The language of what we might call “political apocalyptic” is congenial to this missionary theology and the main purpose of political apocalyptic, that is to produce a theodicy, is also appropriate to the ongoing mission situation in which it provides a kind of theodicy or mission rationale in terms of the universality of God and his having a purpose for his people.
Studi penting yang menghubungkan 1 Petrus dengan PL dilakukan oleh F. W. Danker.23 Teks-teks PL yang relevan (dari LXX hingga Gulungan-gulungan Laut Mati) diselidiki dan dibandingkan dengan perikop penghiburan, 1 Petrus 1:24-2:17. Dari analisis Danker, jelas bahwa penulis 1 Petrus memberikan penekanan kuat pada kenyataan bahwa komunitas yang baru (gereja) merupakan kesinambungan yang otentik dari Israel Perjanjian Lama. Nada penghiburan dalam 1 Petrus terletak pada fakta bahwa seluruh kutipan dari PL (Mzm. 33; 117; Ams. 24; Yes. 40; 43; Hos. 1; 2) meneguhkan pelepasan dari penderitaan dan kesengsaraan. Namun, berkaitan dengan penderitaan, Danker yakin ada perbedaan antara Israel dan umat Allah yang baru. Ia mengatakan, In the case of the OT Israel, sufferings were often viewed as the result of disobedience and Israel’s validity as God’s people was called into question. The sufferings of the new community, on the other hand, come not because of disobedience but in spite of obedience.
Bagian ini dapat dirangkum demikian: ada sedikitnya tiga cara untuk melihat paraenesis atau etis dalam 1 Petrus, yaitu melalui paralel Yunani-Romawinya (Unnik dan Balch), melalui orientasi eskatologisnya (Michaels dan Holdsworth), dan melalui latar belakang PL-nya (Danker). Akan lebih baik jika melihat 1 Petrus melalui ketiga pendekatan ini secara sekaligus. Semua studi yang telah kita pelajari bersifat saling melengkapi satu dengan yang lain dan semuanya menyampaikan makna pesan etis surat 1 Petrus secara lebih sempurna. Dari studi-studi ini kita memiliki sejumlah motivasi untuk tingkah laku Kristen dalam lingkungan yang bermusuhan: berbagi kemuliaan Kristus (Unnik), pembelaan terhadap fitnah (Balch), keyakinan dalam pembenaran akhir Allah (Michaels), alasan rasional untuk misi (Holdsworth), dan ke-khas-an umat Allah yang baru (Danker). Kita dapat melihat bahwa semua motivasi ini memiliki nilai misionaris dan semuanya dimaksudkan guna mendorong para pembaca surat untuk berdiri teguh dan kudus karena Dia yang memanggil mereka adalah kudus (1:15).
Beberapa komentar terhadap pandangan Michaels dan Danker perlu dikemukakan sebelum kita mengakhiri bagian ini. Meskipun saya setuju dengan perspektif mendasar mereka, namun menurut saya mereka mengabaikan beberapa aspek pewahyuan yang penting.Michaels cenderung melihat eskatologi sekadar sebagai masa mendatang dengan penekanan yang terlalu banyak pada pembelaan akhir.
PENDERITAAN DAN KESAKSIAN
Saya telah berusaha menarik implikasi misiologis dari relasi antara baptisan dan penderitaan, dan etika dan penderitaan.Baptisan adalah kesaksian awal kita dalam penderitaan Kristus yang ke dalamnya kita diinisiasikan, dan kesiapsediaan kita untuk menderita bersama-sama orang percaya lainnya.Etika Kristen yang dilaksanakan dalam lingkungan yang bermusuhan dapat memberikan dampak evangelistik.Baik baptisan maupun etika Kristen dapat memiliki nilai kesaksian.Apa yang ingin saya lakukan dalam sisa artikel ini adalah melihat penderitaan gereja dari sudut pandang kesaksian. Pertanyaan yang akan saya coba jawab adalah, bagaimana penderitaan bisa menjadi satu bentuk kesaksian gereja kepada dunia? Tema yang akan saya kembangkan adalah bahwa dalam kasus-kasus tertentu di mana gereja berada dalam situasi yang bermusuhan, pengalaman penderitaannya dapat membuat kehidupannya menjadi kesaksian yang efektif kepada dunia. Di dalam dan dari dirinya sendirilah, bukan penderitaan ataupun aktivitasnya, gereja dapat menjadi sebuah kesaksian.Dengan setia kepada identitasnya yang sejati di tengah situasi yang bermusuhan itulah gereja dapat berbicara kepada dunia. Dengan kata lain, biarlah gereja tetap gereja ketika ia memberi respons kepada situasi apa pun yang ia temukan. Tiga aspek kehidupan gereja yang dapat menjadi kesaksian sehubungan dengan penderitaan adalah: ibadah, melakukan yang baik, dan pemuridan. Pertama-tama saya akan melakukan survei umum tentang penggunaan kata “penderitaan” dan kata terkait lainnya. Survei ini akan berfungsi sebagai konteks di mana saya akan mengamati doksologi, moralitas dan pemuridan yang berkaitan dengan penderitaan dan kesaksian.
Penelitian ini tidak dilakukan secara mendalam dan paling banyak hanya merupakan sebuah refleksi atas tema yang sangat penting ini. Jelas bahwa penderitaan adalah tema utama dalam surat Petrus. Baik kata kerja pascho (menderita) maupun kata benda pathema (penderitaan) ditemukan lebih banyak dalam surat ini dibanding kitab PB lainnya (secara berurutan 12/41 dan 4/10). Di samping itu, ada kata-kata yang berhubungan yang telah ditunjukkan sebelumnya, seperti peirasmos, lupeo, makrothumia dan sebagainya.Pascho mengacu baik kepada penderitaan orang Kristen maupun kepada penderitaan Kristus, tetapi lebih sering digunakan dalam pengertian kedua, yakni Kristus telah menderita bagi kita.Pathema hampir semata-mata digunakan untuk penderitaan Kristus dan kadang-kadang mengacu pada kematian-Nya.
Penderitaan Kristus adalah teladan kelemahlembutan yang perlu dicontoh oleh orang percaya ketika mereka berbuat baik dan menderita di tengah ketidakadilan (2:19 dst.), menjadi teladan keberanian dan jaminan kemenangan (3:18), dan juga dasar untuk tidak terus-menerus hidup di dalam dosa (4:1). Pada sisi lain, penderitaan Kristen patut mendapat pujian ketika: ia melakukan perbuatan baik (2:19, 20); penderitaan itu merupakan sebuah panggilan (2:21); membuat seseorang diberkati karena melakukan apa yang benar (3:14); pengalaman yang lebih baik jika itu adalah kehendak Allah, daripada melakukan yang jahat (3:17), dan seharusnya penderitaan membuat umat Allah menyerahkan diri mereka sendiri kepada Allah (4:19); penderitaan adalah partisipasi dalam penderitaan Kristus jika seseorang menderita karena ia Kristen dan bukan karena ia melakukan yang jahat (4:15, 16); penderitaan memimpin kepada pemulihan, kekuatan, keteguhan dan ketabahan (5:10). Saya akan mengembangkan beberapa tema, namun survei umum penggunaan kata pascho dan pathema memberikan kita satu pengertian tentang keindahan dan nilai penderitaan.
Ada sesuatu yang paradoksial tentang status penerima surat 1 Petrus.
PENDERITAAN DAN IBADAH (1:3-9)
Perikop pertama yang akan saya teliti dibuka dengan doksologi: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus!” Baik kata pascho maupun pathema tidak terdapat di sini, namun ide tentang penderitaan hadir melalui frase lupethentes en poikilois peirasmois (yang telah didukakan oleh berbagai pencobaan). Di sini ada paralel yang jelas dengan Yakobus 1:2, 3, khususnya yang berkaitan dengan ujian iman. Kata kerja lupethentes menunjukkan efek pencobaan-pencobaan itu dan agaknya, di dalamnya terlibat kekacauan emosional. Apakah pencobaan-pencobaan itu benar-benar terjadi atau sekadar ancaman, mereka bisa tetap bersukacita mengingat apa yang telah diberikanNamun, bagi orang Kristen, apa pun keadaan mereka saat ini mereka dapat memuji Allah terutama karena apa yang telah Ia lakukan bagi mereka (1:3, 4. 8). Bentuk present indicative (agalliasthe) menunjukkan bahwa sukacita mereka adalah sebuah pengalaman aktual saat ini. Yang lebih signifikan dalam perikop ini ialah kata ganti relatif en ho (in this). Pertanyaannya, di dalam apa (en ho) orang Kristen bersukacita? Ada tiga kemungkinan jawabannya: pertama, orang Kristen bersukacita di dalam Allah dan Bapa Yesus Kristus (theos kai pater Iesous Christos, 1:3). Kedua, pada akhir zaman (kairo eschato, 1:5), atau, ketiga, dalam semua hal yang disebutkan di ayat 3-5, yakni kemurahan Allah, kelahiran baru, pengharapan yang hidup, warisan yang tidak dapat binasa, perlindungan Allah dan seterusnya.
Keputusasaan yang mungkin ditimbulkan oleh penderitaan dapat diatasi oleh sukacita karena berkat-berkat ini.Ide tentang kesaksian dalam perikop ini tampaknya tidak ada, namun memuji Allah dan bersukacita di tengah penderitaan dapat menjadi satu kesaksian yang efektif bagi orang-orang yang mungkin terkesan oleh bukti pengharapan yang ditunjukkan oleh orang Kristen pada wajah mereka. Dalam pengharapan inilah orang Kristen bersukacita: “Dengan kemurahan-Nya yang besar Ia telah memberikan kita kelahiran baru ke dalam pengharapan yang hidup melalui kebangkitan Yesus Kristus” (1:3b). Pengharapan yang menyukakan ini dapat menimbulkan rasa ingin tahu pada diri orang-orang luar sehingga mereka menanyakan alasan pengharapan yang mereka miliki.Untuk pertanyaan inilah mereka harus siap sedia untuk menjawabnya (3:15).
PENDERITAAN DAN PANGGILAN UNTUK BERBUAT BAIK (2:21-25)
Perikop ini berbicara tentang panggilan dan menyebut kata “menderita” paling sedikit 2 kali, yang mengacu terutama pada penderitaan Kristus. Tesis yang ingin saya ajukan melalui penjelasan perikop 1 Petrus 2:21-25 ini bersama dengan konteksnya adalah: penderitaan bukanlah sebuah pengalaman yang diterima orang Kristen secara pasif; penderitaan bukan sejenis karma yang buruk atau nasib malang sehingga seseorang tidak memiliki pilihan lain. Kita dipanggil untuk berbuat baik bahkan di tengah situasi yang memusuhi kita.Berbuat baik kepada “musuh-musuh” adalah panggilan yang mungkin Allah gunakan untuk mencapai kehendak-Nya. Saya akan mengembangkannya dengan membahas frase eis touto gar eklethete (karena untuk inilah kamu dipanggil, 2:21; bdk. 3:9).Konteks dekat dari perikop ini adalah nasihat yang diberikan kepada hamba-hamba di 2:18 dan seterusnya untuk tunduk kepada tuan mereka.
Salah satu unsur utama dari desakan itu berkaitan dengan tindakan positif: melakukan apa yang benar (2:14), berbuat baik untuk membungkamkan perkataan bodoh orang-orang bebal (2:15, 20), hidup sebagai orang-orang benar yang merdeka, bertolak belakang dengan kebebasan sebagai selubung untuk perbuatan jahat (2:16), sadar akan Allah (2:19). Juga, tunduk kepada otoritas manusia tidaklah mutlak; sikap ini dibatasi oleh takut akan Allah (2:17). Akhirnya, perikop 3:8-22 berbicara tentang penderitaan karena berbuat baik.
Interpretasi G. R. Osborne terhadap teks ini lebih tepat.Ia mencurahkan perhatiannya untuk menulis artikel lengkap tentang 1 Petrus 2:21-25 dan mengakui pengaruh Yesaya 53 di balik perikop ini. Menurutnya, eis touto gar eklethete mengacu pada “perseverance in correct action in the face of unjust suffering. It is incorrect to state that the Christians have been called to suffer.”31 Orang Kristen dipanggil untuk berbuat baik atau bertindak tepat yang di dalam konteks penderitaan menuntut adanya daya tahan.Pandangan ini didukung oleh beberapa penafsir. Menurut Bigg, eis touto gar (2:21a) benar-benar mengacu pada ei agathopoiountes kai paschontas hupomeneite (2:20b, jika kamu berbuat baik dan menahan penderitaan). Eis touto pada ayat 21a cocok dengan touto di 20b, yang mengacu pada klausa kondisional sebelumnya (berbuat baik dan bertahan).Jadi, menurut Goppelt, orang Kristen dipanggil untuk memelihara tingkah laku yang benar di tengah penderitaan.
Penekanan 1 Petrus adalah berbuat baik di tengah penderitaan.Untuk berbuat baik itulah kita dipanggil. Alasan Allah memanggil umat-Nya dengan cara ini ialah karena Kristus telah menderita demi kepentingan mereka dan meninggalkan teladan yang harus diikuti (2:21). Kata huper (demi kepentinganmu) menunjukkan karakter penderitaan Kristus yang dilakukan demi kepentingan orang lain. Penderitaan Kristus bagi manusia ialah motif utama untuk mengikuti contoh-Nya dalam hal berbuat baik kepada semua orang.Berbuat baik di tengah penderitaan merefleksikan penderitaan Kristus yang menjadi teladan bagi orang Kristen, dengan demikian, dalam pengertian ini menjadi kesaksian bagi karya salib Kristus.
PENDERITAAN SEBAGAI PEMURIDAN SALIB (4:12-19)
Ada tradisi penderitaan Kristen yang jelas yang Petrus asumsikan dalam perikop 4:12-19 ini. Ia mungkin berpikir tentang hamba-hamba Allah, baik para nabi di PL dan juga para rasul di PB, semuanya menderita pengalaman serupa. Mungkin ia memikirkan penderitaan Kristus di mana ia sendiri telah menjadi saksinya. Yang paling mungkin ia mengingat ajaran Yesus tentang penderitaan dan dianiaya karena nama-Nya (Mat. 5:11, 12; 16:24).Jadi, Petrus dapat menasihati orang-orang percaya agar tidak dikejutkan oleh pengalaman menyakitkan yang sedang mereka lalui (4:12). Penderitaan adalah partisipasi dalam penderitaan Kristus (4:13) apabila mereka menderita karena nama Kristus (4:14) atau karena mereka adalah orang Kristen (4:16). Mereka seharusnya jangan merasa malu menyandang identitas mereka sebagai orang Kristen, alih-alih mereka seharusnya memuji Allah.Cranfield memberikan komentar menarik ketika mengatakan bahwa seharusnya yang mengejutkan adalah jika orang Kristen tidak dianiaya, “for their very existence is an affront to human self-centeredness.Perikop kita mengatakan bahwa penderitaan Kristen adalah partisipasi dalam penderitaan Kristus: koinoneite tois tou Christou pathemasin. Amati penggunaan kata koinoneite yang darinya berasal kata koinonia, yang berarti “persekutuan.”Penderitaan orang Kristen adalah persekutuan dalam penderitaan Kristus.Bagaimana kita seharusnya memahami persekutuan dalam penderitaan Kristus ini?Apakah itu berarti berbagi secara mistis dalam penderitaan Kristus?Ataukah berbagi dalam kesengsaraan mesianis? Best menerima yang kedua seperti kebanyakan penafsiran yang berkaitan dengan pengharapan mesianis Yahudi. Banyak penafsir mungkin akan menolak ide mistis yang asing bagi 1 Petrus. Persekutuan mistis dengan Kristus terutama sekali merupakan ide Paulus (2Kor. 1:5; 4:10; Flp. 3:10; Kol. 1:24) meskipun sudah tentu tidak inkompatibel dengan ide tentang pemuridan salib, yang merupakan pemahaman saya tentang penderitaan orang Kristen sebagai persekutuan dengan penderitaan Kristus.35 Pada dasarnya saya mengikuti posisi banyak penafsir bahwa penderitaan Kristen dalam hal berbagi atau bersekutu dengan penderitaan Kristus berarti mengikuti Kristus dalam pemuridan.36 Penafsiran ini lebih sesuai dengan yang telah saya bahas tentang berbuat baik di tengah penderitaan, yang pada kenyataannya merupakan salah satu cara pemuridan. Ide tentang pemuridan sesuai dengan ajaran sinoptik tentang menyangkal diri sendiri, memikul salib dan mengikut Kristus (Mat. 16:24-26; Mrk. 8:34-37; Luk. 9:23-25; bdk. Yoh. 12:23-26).
Pemuridan atau mengikuti Kristus itu sendiri adalah sebuah kesaksian. Semua yang dilakukan orang percaya (Kristen) untuk Kristus adalah, sedikit banyak, sebuah bentuk kesaksian pada dunia. Jika ini bukan kesaksian, mengapa harus ada reaksi yang demikian jelas, bahkan suatu reaksi dalam cara yang bermusuhan? Ayat 14 dan 16 berbunyi: “jika engkau dinista karena nama Kristus . . . jika kamu menderita sebagai seorang Kristen, janganlah malu, tetapi pujilah Allah karena engkau menanggungnya.” Ada kesaksian implisit dalam ayat-ayat ini.Orang Kristen bukanlah orang yang bersembunyi di balik jubah anonim ketika berada di bawah tekanan. Mereka menyandang nama Kristus dan identitas mereka sebagai orang Kristen terbuka sehingga bisa dilihat oleh siapa pun. Karena nama Kristus dan identitas Kristenlah mereka menderita. Dalam penderitaan ini mereka mengikuti jejak langkah Kristus, dan karena itu, mereka berpartisipasi dalam penderitaan-Nya.

You must be logged in to post a comment.