Indahnya Matematika

Di Jerman, pada saat lalu lintas padat, para pengendara mobil rela antri mengular, meskipun jalur yang di tengah kosong. Mereka sadar bahwa itu adalah jalur untuk kendaraan darurat seperti ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Seandainya mereka nekat memakai jalur itu, tentu lalu lintas semakin ruwet. Jika terjadi kebakaran, maka pemadam kebakaran tentu tidak bisa lewat sehibgga api semakin sulit dipadamkan. Lagi kalau ada orang yang sedang dalam kondisi kritis dan harus dilarikan ke rumah sakit mungkin tidak akan tertolong dan kalau. Di Jepang orang rela menunggu ber jam-jam dalam kondisi hujan hanya untuk menanti giliran membeli tiket suatu pertandingan olahraga. Mereka justru mengisi waktu saat mengantri dengan kegiatan bermanfaat seperti membaca, menelepon kelurarga, menulis, dan kegiatan lainnya. Kesadaran untuk antri sesuai dengan kedatangan merupakaan contoh sikap yang tertib. Sudah semestinya yang datang lebih dahulu mendapat kesempatan lebih dulu juga. Selain situasi lebih tenang, orang lain juga tidak merasa terganggu. Alangkah indahnya jika setiap orang memiliki kesadaran untuk mengantri. Jadi kesadaran untuk antri merupakan hal yang sepertinya kecil tapi bisa memberikan dampak yang sangat besar.

Masih ingat di benak kita beberapa tahun silam, ada pembagian sedekah kepada orang yang tidak mampu yang dilakukan oleh orang kaya di suatu daerah. Sebenarnya semua sudah berusaha diantisipasi dengan pemberian tiket agar bia mendapat jatah sembako secara bergiliran. Namun yang terjadi masyarakat justru berebut dan saling berdesakan. Akibatnya terjadi kekacauan dan bahkan ada akibat saling dorong ada yang terinjak-injak sampai dirawat ke rumah sakit. Seandainya mereka bisa lebih tertib dan tidak mementingkan diri sendiri, urusan bisa lebih mudah diselesaikan.

Tertib ada yang mengartikan sebagai perilaku yang taat pada peraturan, entah itu lisan ataupun tertulis. Sebenarnya setiap orang tahu bahwa tertib itu baik, namun belum semua bisa melakukannya. Bagaimana caranya agar kita bisa tertib? Di sekolah, banyak dijumpai materi yang memuat tentang pentingnya perilaku tertib. Banyak ceramah-ceramah yang memotivasi agar kita senantiasa hidup dengan tertib. Selogan tentang pentingnya hidup tertib juga sering kita jumpai dimana-mana. Hal itu sebagai bukti bahwa tertib merupakan hal yang penting. Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat membaca sebuah tulisan di suatu media massa, bahwa seorang guru di Australia pernah berkata “Kami tidak khawatir jika anak-anak kami tidak pandai Matematika tetapi kami jauh lebih khawatir jika anak-anak kami tidak pandai mengantri”. Sewaktu ditanya alasannya dia menjawab “Kita hanya perlu 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, tetapi kita butuh  12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu mengingat pelajaran berharga di balik mengantri.” Luar biasa, bukan? Matematika yang selama ini dianggap sebagai momok bagi siswa dan selalu ada di setiap jenjang sekolah masih kalah dengan ketertiban dalam mengantri. Rasaya aneh juga menganggap cukup 3 bulan untuk bisa Matematika.

Memang tidak setiap anak nantinya akan bekerja menggunakan ilmu Matematika. Ada anak yang kelak menjadi musisi, atlit, pengusaha, pelukis, penulis, pedagang, dan masih banyak lagi. Namun akan lebih bijaksana tatkala kita menengok kembali, apa sih Matematika itu? Apakah Matematika itu berhitung? Terlalu sempit kalau kita mengatakan demikian, bahwa para Matematikawan saja belum pernah mencapai suatu titik puncak untuk mencapai kesepakatan yang sempurna tentang definisi Matematika. Tentunya Matematika bukan hanya sekedar segala sesuatu yang berhubungan dengan angka dan bilangan. Menurut Purwoto, jika ditinjau dari struktur dan unsur pembentuknya dikemukakan bahwa Matematika adalah pengetahuan tentang pola keteraturan pengetahuan struktur yang terorganisasikan mulai dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma dan postulat dan akhirnya ke dalil. Pendapat-pendapat tersebut menjelaskan bahwa matematika berkaitan dengan ide, objektifitas,logika, dan keteraturan. Menurut Roy Hollands ”matematika adalah suatu sistem yang rumit tetapi tersusun sangat baik yang mempunyai banyak cabang”. Secara luas matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan-bilangan tetapi lebih luas ia berhubungan dengan alam semesta.  Jadi, matematika adalah ilmu pengetahuan tentang ide dan pola yang tersusun secara terstruktur dan logis yang disertai prosedur operasional dalam menyelesaikan permasalahan sehingga dapat diterima secara obyektif oleh masyarakat.

Matematika tidak hanya berkutat pada materi aljabar dan bilangan, namun banyak cabang Matematika lain yang selama ini mungkin tidak kita kenal seperti kombinatorik yang membahas tentang susunan objek, analisis yang membuka cakrawala kita tentang bukti-bukti teorema dalam matematika, dan struktur aljabar yang mengedapankan logika dan himpunan sebagi obyeknya. Cabang-cabang Matematika tersebut berkembang sangat pesat dan sebagian digunakan sebagai konsep dasar dalam bidang ilmu lain. Namun tak jarang, kita pun tidak tahu apa kegunaanya meskipun suatu saat konsepnya akan digunakan oleh ilmu yang lain. Singkat kata Matematika tidak sekedar berhitung dan menghafal rumus semata, akan tetapi lebih pada suatu wahana latihan berpikir yang lurus dan tertib. Mungkin itulah indahnya Matematika, bertahta di dalam pikiran manusia bermahkotakan logika yang dikelilingi hubungan sebab akibat yang tersusun rapi.

Suka Artikel Ini? Tetap dapatkan Informasi dengan Berlanggana via email

Comments

You must be logged in to post a comment.

Artikel Terkait
About Author